Sekeping Cinta Di Hari Guru

“Seorang guru menggandeng tangan, membuka pikiran, menyentuh hati, dan membentuk masa depan”, (Henry Adams).

Sejatinya hari ini adalah hari yang sangat indah dan berbahagia bagi seluruh guru di Indonesia. Menikmati indahnya hari guru dengan perayaan kue tar atau setangkai bunga. Kemudian disalami oleh seluruh siswa. Sayangnya pandemi telah memaksa para guru dan siswa terpisah di dunia maya. Sehingga cerita indah itu hanya ada dalam impian saja.

Setelah melaksanakan upacara Hari Guru Nasional (HGN) dan HUT PGRI yang ke-75 guru-guru dan pegawai SMAN 1 Lembah Gumanti melakukan pemotongan kue Ulang Tahun PGRI di ruang majelis guru. Ada rasa sunyi tanpa kehadiran siswa, namun suasana tetap riuh dan meriah. Saling berebut kue dan bercengkrama ria  bersama. Kemudian acara dilanjutkan makan bersama di rumah makan putra danau diatas.

Rasa rindu ingin bersemuka dengan sang murid memang sudah tak bisa dipendam di dalam dada. Banyak kisah yang tak bisa diceritakan selama pandemi ini. Belajar daring memang sudah tidak efektif lagi. Hanya ada satu jalan, mengunjungi siswa (home visit) bersama wali kelas, guru bk dan pimpinan sekolah perlu dituntaskan. Jika dibiarkan berlarut-larut maka akan banyak siswa yang tidak tahu rimbanya. Mereka ada di grup-grup kelas tetapi tidak pernah bersuara.

Menyusuri jalan setapak, mendaki bukit, menuruni lereng pebukitan dan mengelilingi danau diatas itulah yang dicoba oleh rombongan walas di hari guru. Rasa penasaran sangat membuncah di dada para guru melihat kondisi dan suasana tempat tinggal para siswa. Ya, Allah masih banyak diantara mereka yang kurang beruntung. Tempat tinggal sederhana, kehidupan orang tua yang kurang mampu,  orang tua yang sakit kanker payudara dan bahkan ada diantara mereka yang menjadi tulang punggung keluarga.

Ya Allah, hari ini lagi-lagi membuka mata kita. Ternyata siswa kita yg bermasalah dalam PBM menanggung beban yg seharusnya belum menjadi tanggung jawab  mereka. Semoga Allah memberikan kesehatan untuk keluarga mereka dan mereka sabar dalam menerima ujian ini. Sebagai guru bagi mereka seharusnya dapat memberikan dukungan moril dan empati serta toleransi kepada mereka. Kita berharap supaya mereka tidak terancam putus sekolah ungkap wakil kurikulum, Yenti Dewi Darwita dengan sangat terharu sekali.

Berusaha belajar untuk tidak menghakimi anak dengan apa yg tertera dan nampak saja. Karena ternyata banyak masalah sebagai penyebab anak jadi lalai ujar Yendrawita guru TIK.

Fifi Herevila, guru biologi yang juga merangkap wali kelas menyatakan “Kita tak banyak bisa berkata-kata banyak melihat kondisi mereka, kalau banyak bicara akan banyak air mata yang tumpah”.

Insya Allah seperti kejadian yang sudah-sudah kita besok langsung berdonasi melalui tangan-tangan siswa kita.  Dan kita akan membantu untuk meringankan dan menghibur mereka yang ditimpa ujian ini. Kita berharap bisa membelikan hp bagi siswa yang betul-betul tidak mampu dan tidak punya hp ujar Yanofidawati, wakil kesiswaan.

Semua menyatu dalam haru biru indahnya hari guru. Jika dulu mereka membawa sekuntum bunga. Hari ini para guru membawa sekeping cinta untuk menyinari kehidupan mereka.

#Selamat HGN dan HUT PGRI ke-75#

#Teruslah menjadi lentera yang tak pernah lelah menyinari#

bisa juga dilihat pada link https://martintepa.com/article/2020/11/sekeping-cinta-di-hari-guru-4518129