Mimpi Sang Rada

Cerpen by : Suci Aulia Rahmi
Gugus : 13 (Face Shield)
Alamat : Taratak Baru
Asal sekolah : SMP N 4 Lembah Gumanti

Pagi menjelang saat seorang gadis yang biasa dipanggil dengan nama Rada mulai menjerang air untuk membuat segelas teh panas. Rada, ialah gadis yang hidup dengan sejuta mimpi di dalam sebuah rumah berdinding tinggi.

Rada merupakan gadis yang tumbuh di dalam keluarga berkecukupan, bahkan bisa dibilang sangat kaya. Namun sayangnya Rada tidak bisa menopang tubuhnya sendiri tanpa menggunakan bantuan kursi roda, sehingga merasa diacuhkan bahkan saat berada di istana mewah tersebut. Kedua orange tua Rada mengacuhkannya karena merasa tidak ada yang bisa diharapkan dari gadis dengan kursi roda tersebut. Sementara kakaknya mungkin saja malu mempunyai adik dengan kondisi seperti Rada.

Setiap hari Rada hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar dan sesekali mengarahkan kursi rodanya menuju arah taman. Gadis yang berusia 17 tahun tersebut sangat senang untuk menggambar di taman guna menghilangkan pikiran buruknya yang menyesali keadaannya.

Suatu pagi Rada jatuh dari kursi rodanya, namun tidak ada seorangpun di dalam rumah tersebut mendekat untuk menolongnya. Rasa kecewanya terhadap hal tersebut membuat Rada memiliki kekuatan untuk menggerakan kursi rodanya ke arah taman kompleks, berniat menenangkan diri.

Saat sedang terisak di taman, tiba-tiba Rada dihampiri oleh seorang gadis seusianya dengan kondisi yang sama. Gadis tersebut mengulurkan tangan untuk Rada dan mulai menyebutkan namanya, yaitu Hana. mereka berdua mudah sekali akrab, mungkin karena keduanya saling mengerti kondisi masing-masing.

Tiba-tiba Hana Berkata, “ Rada, ingatlah bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang terlahir sia-sia. Mungkin kita tidak bisa berdiri tegak layaknya manusia lain. Tapi, kita masih punya hak untuk merasakan bahagia. Cobalah untuk menerima dirimu sendiri, Rada.” lalu, akhirnya gadis itu berpamitan pada Rada.

Semenjak pertemuannya di taman dengan Hana, Rada mulai merenungi kata-kata yang diucapkan oleh gadis tersebut. Rada berpikir bagaimana ia bisa seutuhnya menerima dirinya ketika orang di dekatnya tidak mendukungnya sama sekali.

Rada mencoba mencerna perkataan dari Hana secara perlahan, meskipun seringkali ia menangis ketika teringat kenyataan bahwa ia hanyalah seorang gadis yang diacuhkan. Hal yang dipikirkan oleh Rada adalah bagaimana ia bisa mewujudkan mimpinya dengan kondisi tersebut.

Mimpi Rada adalah menjadi seorang pelukis yang karyanya bisa dipajang di dalam pameran besar. Hal yang dilakukan Rada untuk memulainya adalah rajin membuat lukisan. Kesibukan tersebut juga dilakukan Rada untuk tidak memikirkan mengenai dirinya yang selalu diacuhkan dan mulai memahami perkataan  Hana.

Perlahan mimpi sang Rada mulai terwujud saat diam-diam ia sering memposting lukisannya melalui media sosial. Hingga suatu hari ada seseorang datang ke rumah Rada untuk menemui gadis itu guna mengajaknya untuk bergabung di dalam sebuah pameran lukisan. Kedua orang tua Rada terperangah mendengar ucapan pria tersebut, sebab tidak menyangka bahwa Rada si gadis kursi roda bisa menghasilkan karya lukisan yang indah. Rada hanya tersenyum melihat respon kedua orang tuanya dan memilih menerima tawaran pameran tersebut.

Selesai